Oleh: Harmen Azmi. Dahulu kala, di mata dunia Indonesia terkenal sebagai negeri yang subur, aman, tenang dan damai. Namun, seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman dihuni. Tanahnya menjadi gersang dan tandus. Bencana datang silih berganti. Banjir bandang, gempa, tsunami, banjir, kemarau panjang, sudah menjadi fenomena tahunan. Pembakaran hutan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, telah mengirimkan asap tebal sampai ke beberapa negara tetangga.

Semua bencana yang terjadi, tidak bisa dikatakan merupakan takdir yang telah digariskan Tuhan. Karena bencana seperti banjir, banjir bandang dan tanah longsor terjadi karena ulah manusia sendiri. Pembalakan liar, pembukaan lahan pertanian baru, ruangan terbuka yang dialih-fungsikan, selalu terjadi di setiap kesempatan. Mirisnya, para elite negeri yang berkepentingan dengan hal ini telah menutup mata dengan semua ini. Padahal, telah tertuang dengan jelas dalam perangkat hukum mengenai pengelolaan lingkungan hidup.

Rusaknya lingkungan, tentu saja bukan hanya karena hal diatas. Asap-asap yang keluar dari cerobong pabrik dan limbah yang mengalir ke sungai tanpa penyaringan ikut memperburuk lingkungan. Bahkan hal-hal kecil yang dilakukan masyarakat, seperti membuang sampah sembarangan, boros dalam penggunaan air, menggunakan kendaraan bermotor secara percuma, penggunaan plastik secara berlebihan, memiliki peran serta merusak lingkungan. Namun tidak banyak orang sadar dan paham hal itu.

Sebab itu, perlu disosialisasikan semboyan cinta lingkungan kepada semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Dengan memahami segala tindak tanduk akan memengaruhi lingkungan, lingkungan akan terjaga dengan baik.

Karakter anak terbentuk dari rumah, dan lingkungan (pergaulan) akan mempengaruhinya. Begitu ungkapan yang kerap terdengar, bahkan disetujui oleh banyak pihak. Oleh sebab itu, diharapkan sekolah-sekolah berperan aktif mengenalkan budaya cinta lingkungan pada siswa-siswanya. Hingga gaya hidup cinta lingkungan menjadi bagian hidup mereka.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk membiasakan anak-anak menjaga lingkungan adalah:

1. Tempatkan tong sampah untuk sampah organik dan non organik di sekolah. Wajibkan agar siswa terbiasa membuang sampah ke tempat seharusnya.

2. Rutin membersihkan lingkungan sekolah, menanam pohon atau bunga di lingkungan terbuka sekolah.

3. Tidak membakar sampah.

4. Ajarkan siswa agar tidak membawa kendaraan bermotor ke sekolah, hal ini untuk mengurangi penggunaan bensin dan polusi udara.

5. Menjaga kursi, meja, papan tulis agar tidak cepat rusak. Karena benda-benda tersebut terbuat dari kayu.

6. Design gedung dan kelas agar tidak memerlukan cahaya lampu dan pendingin ruangan ketika proses belajar.

7. Beri pemahaman kepada siswa, menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab semua pihak, bukan hanya pemerintah.

8. Membawa bekal makanan, terutama minuman dari rumah. Karena dengan hal tersebut, akan terjadi pengurangan sampah plastik kemasan minuman secara besar-besaran.

9. Pada beberapa sekolah, bahkan telah bergerak sangat jauh dari itu. Sekolah mendatangkan para pakar untuk memanfaatkan sampah, seperti mendaur ulang sampah plastik dan kertas menjadi barang baru yang bisa dipergunakan, menjadikan sampah organik menjadi pupuk kompos. Mendaur ulang sampah bukan hanya ikut menjaga lingkungan, namun juga akan mengasah kreativitas siswa dan mendatangkan uang.

10. Setelah membimbing siswa untuk terbiasa melakukan hal di atas, tambah pengetahuan mereka apa manfaat semua yang mereka lakukan itu untuk alam dan lingkungan.

Dengan beberapa langkah sederhana di atas, semoga saja lingkungan semakin terjaga dengan baik. Perilaku yang mencerminkan cinta lingkungan turut menekan pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan ini.